Ust.Budi Ashari: Apa istimewanya Hari Ibu ?
Disaat kebanyakan orang hanyut dalam peringatan hari ibu yang diperingati setiap 22 Desember justru Ust.Budi Ashari, Lc, malah bersikap bertolak belakang dengan kebanyakan orang. lelaki kelahiran Tulungagung, 17 April 1975 ini Justru memberikan gambaran bagaimana sikap seorang muslim dalam menyikapi Hari Ibu ini, dimana kebanyakan orang memanfaatkan moment spesial tahunan ini untuk memuliakan atau menspesialkan ibunya.
Beliau adalah suami dari Alfi Zulhidayati. Alhamdulillah, kini pernikahannya telah dianugerahi 4 orang anak: Dihya, Usamah, ‘Aisyah, dan Hamna. Bukan berarti sikap kontranya itu membuat beliau tidak menghargai ibunya tetapi tanpa adanya moment hari ibu ini beliau sudah memuliakan ibunya setiap hari.
Beliau adalah Salah satu lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari Fakultas Hadits dan Studi Islam di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia ini telah lebih dari 6 tahun mengkaji dan berdiskusi untuk mengeksplorasi konsep dan sistem Islam. Beliau yakin bahwa sejarah itu berulang. Jika muslim berhasil menggali ilmu dan pelajaran dari sejarah Islam, maka Insya Allah kita bisa menerapkan dan mendapatkan hasil yang sama dengan generasi terbaik di zaman Rasulullah.
Direktur Lembaga Kajian dan Studi Ilmu Peradaban Islam Cahaya Siroh dan Pembina Parenting Nabawiyah ini memiliki obsesi besar untuk menghadirkan kurikulum pendidikan yang dapat mengembalikan kejayaan Islam.
Nah di bawah ini penjelasan beliau bagaimana seharusnya sikap kita terhadap moment hari ibu ini.
Dalam silaturahim beliau ke salah seorang seniornya, dengan gurau seniornya berkata:
Ayo, sudah cari kado belum untuk hari ibu?
Di grup orang-orang baik yang ada di media sosial pun bermunculan berbagai kreasi gambar tentang kemuliaan seorang ibu dan ujungnya: Selamat Hari Ibu.
Saya baru sadar kalau ini adalah bulan di mana hari ibu diperingati. Dari sejak awal, saya katakan bahwa berbagai peringatan hari tersebut jelas bukan karakter agama Islam ini. Tak hanya hari ibu, ada juga hari ayah, hari tembakau, hari kanker, dan entah hari-hari apa yang akan diusulkan kembali setelah ini.
Ini hadir dari kebiasaan sebuah masyarakat yang tidak mampu memenuhi hak seseuatu yang diperingati tersebut. Maka untuk memberikan kepedulian dan perhatian mereka, hari itu diadakan.
Silakan baca sejarah hari-hari tersebut.
Hari ibu ini contohnya. Hari yang mulai diramaikan di Amerika ini menjadi hari yang diperingati mengingat masyarakat Amerika adalah masyarakat tanpa ikatan kekeluargaan seperti yang kita kenal dalam Islam.
Semakin hari semakin renggang, bahkan bisa tidak saling kenal. Kawin cerai semakin membuat rumit hubungan antara anak dan orang tuanya. Tak ada bab birrul walidain dalam kajian etika mereka. Melihat itu semua, nurani mereka mulai terusik.
Ibu yang berjasa –setidaknya- mengandung dan melahirkan, harus dihormati jasanya. Bahkan gereja tak sanggup menyuguhkan moral itu.
Hingga Anna Jarvis tahun 1908 untuk kali pertama membawa bunga yang dibagikan kepada para jemaat yang ada di gereja tempat dahulu ibunya beribadat.
Sebelum ini semua, Julia Ward Howe sudah mengkampanyekan ibu untuk keselamatan di Inggris, dalam rangka menyatukan wanita untuk melawan peperangan yang sedang terjadi.
Anna Jarvis memilih waktu Minggu, karena ia ingin menjadi peringatan yang berkekuatan spiritual gereja.
Konggres Amerika baru menyepakatinya sebagai hari resmi nasional pada tahun 1914.
Tapi tahukah Anda, kalau Anna Jarvis akhirnya menyesal?
Hanya 9 tahun setelah diresmikannya hari ibu, Amerika mulai berpesta di setiap hari ibu tiba. Dengan dalih menghormati ibu, mereka hanya memanfaatkannya untuk bisnis dan marketing berbagai hadiah di pasar.
Sakralitas gereja telah berubah menjadi ajang marketing pasar.
Anna Jarvis menyesal, “Saya berharap bahwa saya tidak memulai hari ini, karena ia telah keluar dari kendalinya.”
Anna Jarvis menyesal, “Saya berharap bahwa saya tidak memulai hari ini, karena ia telah keluar dari kendalinya.”
Anna mengerahkan sisa hidup dan hartanya untuk mengembalikan hari yang telah disesalinya itu. Dengan semua kemarahannya. Tapi tanpa hasil. Bahkan disebutkan bahwa ia ditangkap tahun 1948 gara-gara demo atas keruhnya hari ibu, dia dianggap mengganggu kesalamatan.
Maaf, apa istimewanya sejarah hari ibu di atas?
Bermula dari pembagian bunga dan hanya berujung pada penjualan bunga. Bermula dari gereja berujung penyesalan. Dan akhirnya penangkapan.
Maaf, apa istimewanya?
Cermatilah semua peringatan yang mereka buat. Tak jauh dari suasana seperti itu.
Perlahan tapi pasti, peringatan seperti ini mulai memasuki tubuh muslimin yang tak lagi mempunyai pertahanan kokoh.
Termasuk negeri ini. Kita lupa kalau kita ini muslim.
Tak memerlukan sebuah hari di mana kita menghormati dan berbakti kepada ibu kita.
Karenanya,
Tak memerlukan sebuah hari di mana kita menghormati dan berbakti kepada ibu kita.
Karenanya,
Maaf ibu
Tak ada bunga untukmu
Tak ada bunga untukmu
Tidak kartu tak pula makanan kesukaanmu
Hanya di hari ibu
Hanya di hari ibu
Karena aku sadari sepenuhnya
Kaulah segalanya
Tempatmu hanya sederajat di bawah Allah dan Rasul-Nya
Tiga kali lipat di atas ayah kau lebih mulia
Surga ada di bawah telapak kakimu
Kau pintu surga anak-anakmu
Makhluk yang paling berhak terhadap diriku adalah dirimu
Perintah Al-Quran untuk bakti hanya menyebut jasamu
Al Adabul Mufrod karya Al Bukhari membuka dengan bab tentangmu
Al Adabul Mufrod karya Al Bukhari membuka dengan bab tentangmu
Doa ampunan dan kasih sayang selalu terkirimkan untukmu
Setelah amal dan dalam sujud panjangku selalu kado doa untukmu
Setelah amal dan dalam sujud panjangku selalu kado doa untukmu
Bahkan,
Bakti kepadamu tak terhenti setelah tiadamu
Bakti kepadamu tak terhenti setelah tiadamu
Untuk mengantar yang terbaik hingga peristirahatan indahmu
Untuk semua janji, kewajiban, dan wasiatmu
Untuk saudara dan kerabatmu
Untuk teman baikmu
Karena seluruh hidupku untukmu,
di setiap hela nafasku
Sadar, tawaf menggendongmu tak mampu membalas setetes air susumuDan,
Karena seluruh hidupku untukmu,
di setiap hela nafasku
Sadar, tawaf menggendongmu tak mampu membalas setetes air susumuDan,
Karena bakti tak mengenal hari...
Semua artikel bersifat dinamis karena sewaktu-waktu akan mengalami perubahan data/sumber/analisa dan lainnya demi keakuratan dan obyektifitas informasi.
TINGGALKAN KOMENTAR ANDA