Wouw.... 40 Persen dari Harga Obat ternyata Buat Menyuap Dokter

Temuan  investigasi Majalah Tempo edisi terbaru mengenai persengkongkolan antara dokter dan perusahaan farmasi  amat memprihatinkan.  Praktek kotor itu  masih berlangsung  hingga sekarang, bahkan modusnya tak banyak berubah. Sebelumnya, 14 tahun lalu, Tempo juga  melakukan penelisikan serupa dengan hasil yang mirip pula.
Penegak hukum, entah itu Komisi Pemberantasan Korupsi,  kejaksaan, kepolisian, atau setidaknya Ikatan Dokter Indonesia semestinya turun tangan. Suap membuat  harga obat meroket.  Publik dirugikan. Biaya perusahaan farmasi untuk menyogok  dokter cukup besar, yakni 40 sampai 45 persen dari harga obat.
Dokter dan perusahaan farmasi  seharusnya bisa  dijerat dengan Undang-undang Pemberantasan Korupsi. Hadiah atau imbalan untuk dokter  karena telah membikin resep obat dari perusahaan farmasi semestinya  dikategorikan sebagai gratifikasi. Yang jelas, Kode Etik Kedokteran  melarangnya.  Dokter tidak boleh “membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi, perusahaan alat kesehatan  atau badan lain yang dapat mempengaruhi pekerjaan dokter”.
Khusus dokter di lingkungan Kementerian Kesehatan terikat pula Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 14/2014 tentang Pengendalian Gratifikasi. Intinya sama, ada larangan untuk menerima imbalan dari perusahaan farmasi.

Ketua Komite Nasional Penyusunan Formularium Nasional Iwan Dwiparahasto mengatakan rata-rata perusahaan farmasi menghabiskan duit untuk mempromosikan obatnya sebesar 40 persen dari total biaya produksi.Alih-alih untuk beriklan, biaya promosi merupakan uang komisi penulisan resep obat. “Itu untuk membiayai dokter jalan-jalan ke luar negeri, bertanding golf, hingga membelikan mobil,” kata Iwan, yang juga guru besar farmakologi dari Universitas Gajah Mada, kepada Tempo, akhir September lalu.
Saat menelusuri penyebab mahalnya harga obat ini, tim investigasi Majalah Tempo memperoleh puluhan kuitansi yang dikeluarkan  sebuah produsen obat  saat memberikan uang kepada para dokter.Ada juga puluhan file berformat Microsoft Excel, yang berisi 2.125 nama dokter di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Surabaya, Jember, dan Makassar, yang diduga menerima suap dari  perusahaan itu.
Saat ini, ada 205 perusahaan farmasi yang memperebutkan Rp 69 triliun ceruk pasar obat pada tahun ini. Angka itu setiap tahun meningkat. Pada 2000, misalnya, nilai bisnis obat hanya Rp 6 triliun.Mereka  bersaing dengan cara  “mendekati” dokter. “Jika dokternya punya banyak pasien, berapa pun uang yang diminta dokter akan dipenuhi,” kata seorang mantan petinggi perusahaan farmasi  yang kini tak lagi bekerja di dunia farmasi.
Pada salah satu kuitansi, misalnya, tercantum nama seorang dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktek di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perusahaan farmasi itu menghadiahi si dokter perayaan tahun baru 2014 di Jepang. Di nota agen wisata, perjalanan  tersebut bernilai US$ 15.690 atau senilai Rp 170 juta dengan kurs pada masa itu.
Ada lagi kuitansi pada Januari 2014 yang menyebutkan si dokter  menerima Rp 200 juta. Kuitansi itu ia stempel dan ditandatangani. Lalu, pada Januari 2015, ia tercatat menerima Rp 500 juta. Sang dokter  sempat membantah menerima uang itu. Ia mengaku setelah ditunjukkan kuitansi pada 2014 tersebut. Menurut dia, itu bukan uang suap agar ia meresepkan produk perusahaan farmasi. “Itu uang komisi untuk apotek saya,” katanya, Kamis tiga pekan lalu, di kliniknya.
Memerangi  suap dokter amat penting karena  tak hanya merugikan rakyat tapi juga memicu ekonomi biaya tinggi sekaligus menciptakan persaingan bisnis yang tidak sehat. 
Berikut ini  realitas yang mengejutkan:

1. Uang Triliunan untuk Dokter

Farmasi termasuk  termasuk industri  yang kebal krisis ekonomi.  Di tengah ekonomi lesu,  industri ini masih  tumbuh antara   10 hingga 15  persen pada semester pertama  2015. Pada semester kedua, diperkirakan  juga akan tumbuh dengan angka sama. Ini berarti industri  farmasi bisa mencetak omzet  Rp 55 sampai 57,5 triliun pada tahun ini karena omzet tahun lalu sekitar Rp 50 triliun.

Jika sekitar 40 persen dari harga obat digunakan untuk promosi yang tak wajar atau untuk menyuap dokter, betapa besar  nilai dana yang disia-siakan itu. Jumlahnya bisa mencapai Rp 22 triliun!
2. Seorang Dokter Bisa Mendapat Miliaran

Dari investigasi Tempo terungkap,  seorang dokter  internis mendapatkan setoran sekitar Rp 1 miliar  dari sebuah perusahaan  farmasi.  Uang itu ditransfer dalam 15 kali transaksi. Pada 2014 ia menerima Rp 678 juta dan Rp 332 juta pada 2013. Tempo juga mendapat bukti dalam bentuk fotokopi kwitansi dan cek atas nama seorang dokter yang lain. Ia mendapatkan cek  senilai Rp 400 juta pada Mei 2013.

Tak cuma uang, dokter juga kerap ditawari hadiah lain seperti  berwisata, beribadah haji, dan bonus  lain yang menggiurkan. 

3. Asal Bikin Resep

Iming-iming itu menyebabkan seorang dokter enteng saja menulis resep obat bermerek yang mahal.  Dokter juga gampang sekali memberikan obat antibiotik atau vitamin yang tak  dibutuhkan oleh pasien.

Ada semacam aturan main antara perusahaan farmasi dan dokter. Seorang dokter harus mengumpulkan resep dengan nilai sebanyak 5 kali lipat dari setoran atau hadiah.  Misalnya, si dokter disuap Rp 100 juta, maka ia  harus membikin resep senilai Rp 500 juta. 

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zaenal Abidin, mengakui masih ada dokter yang main mata dengan perusahaan. Padahal sanksi bagi dokter yang melakukan hal itu cukup berat, sampai pada pencabutan izin praktek. “Dalam etika kedokteran, dokter dibolehkan mendapat  sponsorship  berupa biaya transportasi, penginapan, dan makan untuk pendidikan berkelanjutan seperti seminar atau simposium,” ujarnya. (tempo.co, 2/11/2015)
Post : lemahirengmedia.com
Semua artikel bersifat dinamis karena sewaktu-waktu akan mengalami perubahan data/sumber/analisa dan lainnya demi keakuratan dan obyektifitas informasi.

Tidak ada komentar

Copyright © . Lemahireng Info All Right Reserved -
Diberdayakan oleh Blogger.