Sedih.. "Ribuan limbah kondom" meresahkan warga Kabupaten Semarang
Limbah kondom bekas pakai itu kini benar-benar menimbulkan masalah baru. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) setempat mencatat sedikitnya ada 13 ribu kondom bekas pakai yang berasal dari tiga kawasan yang mereka sebut sebagai “hotspot” itu. Ketiadaan tempat pembuangan khusus dan pengelohan limbah kondom bekas ini membuat khawatir banyak pihak karena akan mencemari lingkungan dan menimbulkan persoalan sosial.
Menurut Taufik, jumlah tersebut merupakan jumlah kondom yang diditribusikan KPA sebagai bagian aksi pencegahan virus HIV/AIDS dikalangan pekerja seks komersial maupun pelanggan mereka. Pihaknya tidak mendata jumlah kondom yang digunakan secara mandiri oleh para PSK. “Yang kami sampaikan itu angka serapan setiap bulannya, belum lagi kondom yang mereka adakan secara mandiri. Jika diakumulasi sejak program ini ada sekitar tahun 2009 sampai sekarang jumlahnya mungkin sudah menembus angka 1 juta kondom,” jelas Taufiq.
Angka tinggi serapan kondom di lokalisasi bagi KPA maupun pemerintah di satu sisi dapat diartikan positif, dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS. Tetapi belakangan muncul persoalan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, termasuk oleh pihak KPA, yakni tidak tersedianya tempat pembuangan khusus. Akibatnya, kondom bekas dibuang sembarangan.
KPA Kabupaten Semarang, kata Taufiq, akan membawa masalah limbah kondom ini menjadi salah satu isu di forum KPA Nasional. Sebab tak hanya mencemari lingkungan, sejumlah lembaga pendidikan di sekitar tiga lokasi tersebut mengaku khawatir perubahan perilaku anak-anak didik mereka, lantaran mereka mudah mendapati kondom bekas pakai yang dibuang sembarangan di banyak tempat.
Keresahan ortu dan guru
KPA Kabupaten Semarang pun kini menuntut tanggung jawab produsen kondom guna menangani limbah kondom bekas pakai di sejumlah lokalisasi itu. KPA meminta produsen membuat instalasi pengolahan limbah kondom agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan persoalan sosial lainnya.
“Informasi dari teman-teman yang mendampingi perusahaan, itu memang ada Undang-undang yang mengatur bahwa setiap limbah produksi sampai dengan limbah pasca-penggunaan itu seharusnya menjadi tanggung jawab perusahaan untuk mengolahnya,” kata Divisi Program KPA Kabupaten Semarang, Taufik Kurniawan, pada Sabtu (13/4/2014).
Para guru yang ikut dalam lokakarya yang digelar KPA menyatakan sangat mengkhawatirkan perilaku anak didik mereka lantaran ligkungan yang tidak kondusif, yakni di antaranya seringkali anak-anak menjumpai limbah kondom bekas di berbagai tempat.
“Ada kejadian di mana seorang murid yang ditugasi membuat makalah. Pihak sekolah terkejut karena isu yang diangkat anak ini adalah persoalan sampah kondom di lingkungan Tegalpanas. Kemarin kita diskusi dengan guru di sana, intinya mereka menyampaikan bahwa limbah kondom ini menjadi masalah bagi lingkungan. Yang kedua ini karena ini menjadi daya tarik bagi anak-anak yang belum waktunya,” ungkap Taufiq.
Menanggapi hal itu, KPA Kabupaten Semarang berjanji akan mendesak KPA nasional untuk menekan pihak produsen bertanggung jawab terhadap limbah kondom bekas pakai yang selama ini tidak tertangani dengan baik. KPA juga akan membawa isu kondom bekas ini untuk dibicarakan dalam forum resmi KPA nasional.
“Kalau kita ngomong (kondom) Sutra, kita akan minta (produsen) Sutra dalam pengolahan limbahnya. Permasalahannya justru kondom yang pengadaannya oleh KPA nasional, sehingga kita akan meminta KPA mendorong pemenang tender memikirkan masalah limbah ini,” ungkap Taufiq.
Sementara itu, menjawab kekhawatiran bahwa limbah kondom bekas pakai bisa menularkan penyakit, Taufiq memastikan, satu-satunya masalah bagian dari dampak pembuangan limbah kondom bekas pakai sembarangan ini hanyalah kelestarian lingkungan karena lateks, bahan baku kondom ini tidak bisa terurai bakteri tanah.
“Pengelola harus memikirkan bagaimana pembuangannya. Intinya jangan buang kondom di satu lokasi. Syukur-syukur di lokasi itu bisa kita burning (bakar),” pungkasnya.
----- INDONESIA MILIK ALLAH -----
"Media lokal yang menggali dan mengangkat potensi masyarakat bawah"
TINGGALKAN KOMENTAR ANDA