Ketahui modus - modus komunitas LGBT yang kini kian marak.
Para pelaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) selalu menggunakan senjata Hak Asasi Manusia (HAM) untuk membenarkan tindakan mereka. Parental Communication Specialist, Hana Yasmira yang mereka perjuangkan sering diartikan sebagai kebebasan dalam melakukan sex sesama jenis. "Sayangnya atas nama HAM, kebebasan sering diartikan kebebasan dalam melakukan sex secara ngawur," kata dia, Jumat (22/1).
Hana mengatakan jika melihat di beberapa media sosial saat seorang telah memploklamirkan sebagai gay mereka seperti bebas melakukan apapun. Kata dia, seolah-olah mereka dapat melakukan atau membenarkan seks bebas sesama jenis.
Kalau di media, bertebaran foto-foto jorok yang ditampilkan, seperti ciuman bebas, Hana mengatakan mereka bukan mencari hak-haknya. Namun, lebih ke arah pornorafi. Sementara itu, saling berciuman sesama jenis saja sudah sangat berbahaya.
"Jadi kalau seperti itu, mereka memperjuangkan seks bebas sesama jenisnya," tutur dia.
Namun di Negara Indonesia menikah sesama jenis tidak diperbolehkan. Semua pihak juga tidak boleh mendiskriminasikan atau pelaku seksual mereka. Tapi kalau berhubungan seks bebas risiko penyakit tinggi sekali.
Eksistensi gerakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) sudah terdengar sejak 90-an. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk berhubungan seks sesama jenis.
Sampai akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007. Jaringan ini didukung organisasi internasional.
Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender.
Sebenarnya, modus apa saja yang digunakan para aktivis LGBT untuk menebar pahamnya ke Indonesia. Berikut empat diantaranya yang direkam pusat data Republika.co.id
Lewat Buku
Sebuah buku bergaya komik yang diterbitkan PT Elex media Komputindo menuai kontroversi. Buku berjudul 'Why Puberty: Pubertas' ini mendapat sorotan publik karena memuat legalitas hubungan sesama jenis.
Dalam sinopsis yang ada pada laman Elexmedia, buku seharga Rp 75 ribu itu merupakan karya penulis asal Korea Selatan, yakni Jeon Ji-eun. Dengan 200 halaman, buku itu terkesan memberikan pendidikan seksual kepada remaja dengan bahasa sederhana.
Pengetahuan seks, seperti mimpi basah, masturbasi, dan menstruasi dibahas di buku ini. Hanya, pada bab terakhir, buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana mencintai pasangan sejenis. Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan.
Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenis, seperti tertera dalam buku tersebut. Buku itu kemudian memang ditarik penerbit. Aluisius Arisubagijo, general manager PT Elexmedia Komputindo mengakui adanya keteledoran meski mengklaim penerbitan buku tersebut sudah prosedural.
Meski ditarik, penerbitan buku itu menyingkap tabir tentang propaganda gerakan LGBT di Indonesia. Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) sudah bukan menjadi gerakan bawah tanah. Legalisasi penyimpangan orientasi seksual tersebut di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat membuat mereka semakin berani bersuara.
Aktif di Twitter
Pergerakan kaum LGBT pun sudah terlihat dampaknya lewat media sosial seperti Twitter. Bahkan anak-anak SMP-SMA banyak yang ditengarai terjerat. Lewat akun Twitter ditemukan komunitas gay yang terang-terangan berkata-kata mesum dan jorok untuk menarik perhatian kaum sesama lain.
Prasetyo, salah satu gay di Twitter tersebut, mengucapkan kata-kata yang jorok yang ditujukan kepada akun gay lain yang mengklaim SMP Bekasi, SMP Tangerang, dan SMA Jakarta.
Seperti dilihat Republika.co.id, akun yang mengatasnamakan gay SD SMP memiliki pengikut 980 akun. Sementara SMP Bekasi ada 17 ribu pengikut.
Kampanye Lewat YouTube
Di Youtube, terdapat satu saluran bernama Yimoet channel untuk mengampanyekan kaum LGBT. Channel yang dipublikasi oleh Yayasan Intermedia tersebut menggambarkan anak-anak muda yang bangga menjadi LGBT sejati.
Beberapa scene pada video itu juga menggambarkan adanya pengakuan dari orang tua mengenai disorientasi seksual para pemuda tersebut.
Di channel itu, mereka legawa dengan kecenderungan anak-anaknya yang memiliki orientasi seksual berbeda.
"Kita semua sama. Kita semua bersahabat. So be proud of you guys," ujar salah seorang remaja tanggung dalam video tersebut yang mengaku gay.
Tak hanya lewat internet, propaganda LGBT juga tampak dari program hiburan stasiun televisi. Banyak program bergenre komedi dan musik menyertakan penampakan lelaki bertingkah feminim yang akrab disebut melambai. Propaganda LGBT ini menyuburkan jumlah kecenderungan perilaku seksual menyimpang.
Lembaga Konseling Kampus
Tak ketinggalan, LGBT juga merambah kampus. Sebuah poster muncul di dunia maya menghebohkan sejumlah pengguna media sosial, Kamis (21/1). Dalam poster tersebut tertulis penawaran bagi mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) yang punya kecenderungan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
Dalam poster itu Support Group and Resource Center On Sexuality Studies" (SGRC) UI memasang foto dan orang-orang yang sudah secara terbuka mengakui dirinya LGBT. Mereka yang mengalami masalah ini, justru diminta untuk mengirimkan dan bercerita tentang masalah mereka kepada orang, yang sudah mengakui kalau dirinya LGBT.
Sekalipun SGRC-UI menyebut mereka bukanlah kelompok LGBT, tetapi mereka adalah kelompok kajian kampus. SGRC-UI mengaku mengampanyekan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai permasalahan gender dan seksualitas melalui seminar, diskusi, dan berbagai kegiatan lain. Di sana, mereka menyarankan untuk mengenal SGRC UI yang dimuat dalam situs www.Melela.org.
Maraknya komunitas LGBT Remaja
Maraknya komunitas gay remaja disebabkan lemahnya pengawasan dan tertutupnya komunikasi antara orangtua anak-anak yang mulai beranjak remaja.
Dirjen Pendidikan Anak dan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Harris Iskandar, mengatakan pendidikan di rumah yang baik dapat mencegah anak terhindar dari kelainan orientasi seksual alias Lesbian, gay, bisexual and transgender (LGBT).
"Pertama, komunikasi harus terbuka antara orang tua dengan anak, terutama anak yang menjelang remaja," ujar Harris di Jakarta, Senin (25/1/2016).
Orangtua, lanjut Haris, juga perlu mengenal lingkungan dan teman-teman anaknya serta menanamkan nilai-nilai agama yang baik, serta mengenalkan kesehatan reproduksi.
"Selanjutnya, diskusikan LGBT sebagai perkembangan global sejak zaman Nabi Luth yang harus disikapi dengan bijak. Ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk tak henti-hentinya saling menasihati dan memberi pencerahan kepada masyarakat atau teman yang sudah mendeklarasikan LGBT, agar kembali menjalani kehidupan yang normal," terang dia.
Harris menambahkan beberapa faktor yang menjadi fenomena LGBT adalah pencucian otak yang dilakukan melalui berbagai tayangan film Hollywood, televisi dan internet.
"Diperburuk dengan pendidikan keluarga yang minim. Maka lengkap sudah," cetus dia.
Meski demikian, dia mengatakan pihaknya tidak mempunyai langkah untuk membendung fenomena LGBT tersebut.
"Kami hanya mengenalkan fungsi bagian tubuh secara umum kepada anak, serta bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain kecuali orang tua dan pengasuh yang diberi kepercayaan oleh orang tuanya," kata Harris.
Sebelumnya, akun jejaring sosial Twitter @gaykids_botplgmenghebohkan jagad dunia maya, karena menampilkan foto anak-anak yang terindikasi mengalami kelainan seksual.
Sengaja untuk merusak generasi Islam
Juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Iffah Ainur Rochmah mengajak masyarakat untuk mewaspadai upaya "ekspor" sistematis paham lesbian, gay, biseksual dan transgender (LBGT) ke negeri-negeri muslim yang didanai lembaga-lembaga liberal dunia.
"Ada dukungan dana dan opini dari lembaga-lembaga dunia dan media media Barat yang liberal untuk menyebarkan kerusakan di negeri-negeri muslim," kata Iffah dalam siaran persnya, Senin.
Iffah menilai upaya kampanye LGBT semakin menunjukkan keberanian setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat mengesahkan perkawinan sejenis tahun sebelumnya.
Menurut Iffah, AS secara serius mendanai program baru bernama "Being LGBT in Asia" yang diluncurkan UNDP dengan pendanaan 8 juta dolar AS dari USAID yang dimulai Desember 2014 hingga September 2017.
"Program ini fokus beroperasi di Asia Timur dan Asia Tenggara khususnya di Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand, dengan tujuan meminimalkan kendala bagi kaum LGBT untuk hidup di tengah masyarakat," tuturnya.
Iffah mengatakan, foto perkawinan sejenis di Bali yang beredar dan berbagai sosialisasi terbuka LGBT yang dikemas dalam forum-forum diskusi intelektual dan sejenisnya mengisyaratkan ruang gerak mereka semakin besar dengan dukungan kondisi sosial politik Indonesia.
"Masyarakat yang semakin permisif terhadap penyimpanga perilaku dan mengadopsi paham kebebasan adalah penyebab perilaku LGBT semakin tumbuh dan ancaman kerusakan yang ditimbulkan semakin besar," katanya.
Meskipun Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melarang keberadaan LGBT, tetapi Iffah mengatakan UNDP melaporkan terdapat 119 organisasi pendukung LGBT yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sumber:beritagar-HTI-Republika
Post by : lemahirengmedia.com
Semua artikel bersifat dinamis karena sewaktu-waktu akan mengalami perubahan data/sumber/analisa dan lainnya demi keakuratan dan obyektifitas informasi.
Hana mengatakan jika melihat di beberapa media sosial saat seorang telah memploklamirkan sebagai gay mereka seperti bebas melakukan apapun. Kata dia, seolah-olah mereka dapat melakukan atau membenarkan seks bebas sesama jenis.
Kalau di media, bertebaran foto-foto jorok yang ditampilkan, seperti ciuman bebas, Hana mengatakan mereka bukan mencari hak-haknya. Namun, lebih ke arah pornorafi. Sementara itu, saling berciuman sesama jenis saja sudah sangat berbahaya.
"Jadi kalau seperti itu, mereka memperjuangkan seks bebas sesama jenisnya," tutur dia.
Namun di Negara Indonesia menikah sesama jenis tidak diperbolehkan. Semua pihak juga tidak boleh mendiskriminasikan atau pelaku seksual mereka. Tapi kalau berhubungan seks bebas risiko penyakit tinggi sekali.
Eksistensi gerakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) sudah terdengar sejak 90-an. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk berhubungan seks sesama jenis.
Sampai akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007. Jaringan ini didukung organisasi internasional.
Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender.
Sebenarnya, modus apa saja yang digunakan para aktivis LGBT untuk menebar pahamnya ke Indonesia. Berikut empat diantaranya yang direkam pusat data Republika.co.id
Lewat Buku
Sebuah buku bergaya komik yang diterbitkan PT Elex media Komputindo menuai kontroversi. Buku berjudul 'Why Puberty: Pubertas' ini mendapat sorotan publik karena memuat legalitas hubungan sesama jenis.
Dalam sinopsis yang ada pada laman Elexmedia, buku seharga Rp 75 ribu itu merupakan karya penulis asal Korea Selatan, yakni Jeon Ji-eun. Dengan 200 halaman, buku itu terkesan memberikan pendidikan seksual kepada remaja dengan bahasa sederhana.
Pengetahuan seks, seperti mimpi basah, masturbasi, dan menstruasi dibahas di buku ini. Hanya, pada bab terakhir, buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana mencintai pasangan sejenis. Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan.
Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenis, seperti tertera dalam buku tersebut. Buku itu kemudian memang ditarik penerbit. Aluisius Arisubagijo, general manager PT Elexmedia Komputindo mengakui adanya keteledoran meski mengklaim penerbitan buku tersebut sudah prosedural.
Meski ditarik, penerbitan buku itu menyingkap tabir tentang propaganda gerakan LGBT di Indonesia. Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) sudah bukan menjadi gerakan bawah tanah. Legalisasi penyimpangan orientasi seksual tersebut di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat membuat mereka semakin berani bersuara.
Aktif di Twitter
Pergerakan kaum LGBT pun sudah terlihat dampaknya lewat media sosial seperti Twitter. Bahkan anak-anak SMP-SMA banyak yang ditengarai terjerat. Lewat akun Twitter ditemukan komunitas gay yang terang-terangan berkata-kata mesum dan jorok untuk menarik perhatian kaum sesama lain.
Prasetyo, salah satu gay di Twitter tersebut, mengucapkan kata-kata yang jorok yang ditujukan kepada akun gay lain yang mengklaim SMP Bekasi, SMP Tangerang, dan SMA Jakarta.
Seperti dilihat Republika.co.id, akun yang mengatasnamakan gay SD SMP memiliki pengikut 980 akun. Sementara SMP Bekasi ada 17 ribu pengikut.
Kampanye Lewat YouTube
Di Youtube, terdapat satu saluran bernama Yimoet channel untuk mengampanyekan kaum LGBT. Channel yang dipublikasi oleh Yayasan Intermedia tersebut menggambarkan anak-anak muda yang bangga menjadi LGBT sejati.
Beberapa scene pada video itu juga menggambarkan adanya pengakuan dari orang tua mengenai disorientasi seksual para pemuda tersebut.
Di channel itu, mereka legawa dengan kecenderungan anak-anaknya yang memiliki orientasi seksual berbeda.
"Kita semua sama. Kita semua bersahabat. So be proud of you guys," ujar salah seorang remaja tanggung dalam video tersebut yang mengaku gay.
Tak hanya lewat internet, propaganda LGBT juga tampak dari program hiburan stasiun televisi. Banyak program bergenre komedi dan musik menyertakan penampakan lelaki bertingkah feminim yang akrab disebut melambai. Propaganda LGBT ini menyuburkan jumlah kecenderungan perilaku seksual menyimpang.
Lembaga Konseling Kampus
Tak ketinggalan, LGBT juga merambah kampus. Sebuah poster muncul di dunia maya menghebohkan sejumlah pengguna media sosial, Kamis (21/1). Dalam poster tersebut tertulis penawaran bagi mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) yang punya kecenderungan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
Dalam poster itu Support Group and Resource Center On Sexuality Studies" (SGRC) UI memasang foto dan orang-orang yang sudah secara terbuka mengakui dirinya LGBT. Mereka yang mengalami masalah ini, justru diminta untuk mengirimkan dan bercerita tentang masalah mereka kepada orang, yang sudah mengakui kalau dirinya LGBT.
Sekalipun SGRC-UI menyebut mereka bukanlah kelompok LGBT, tetapi mereka adalah kelompok kajian kampus. SGRC-UI mengaku mengampanyekan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai permasalahan gender dan seksualitas melalui seminar, diskusi, dan berbagai kegiatan lain. Di sana, mereka menyarankan untuk mengenal SGRC UI yang dimuat dalam situs www.Melela.org.
Maraknya komunitas LGBT Remaja
Maraknya komunitas gay remaja disebabkan lemahnya pengawasan dan tertutupnya komunikasi antara orangtua anak-anak yang mulai beranjak remaja.
Dirjen Pendidikan Anak dan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Harris Iskandar, mengatakan pendidikan di rumah yang baik dapat mencegah anak terhindar dari kelainan orientasi seksual alias Lesbian, gay, bisexual and transgender (LGBT).
"Pertama, komunikasi harus terbuka antara orang tua dengan anak, terutama anak yang menjelang remaja," ujar Harris di Jakarta, Senin (25/1/2016).
Orangtua, lanjut Haris, juga perlu mengenal lingkungan dan teman-teman anaknya serta menanamkan nilai-nilai agama yang baik, serta mengenalkan kesehatan reproduksi.
"Selanjutnya, diskusikan LGBT sebagai perkembangan global sejak zaman Nabi Luth yang harus disikapi dengan bijak. Ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk tak henti-hentinya saling menasihati dan memberi pencerahan kepada masyarakat atau teman yang sudah mendeklarasikan LGBT, agar kembali menjalani kehidupan yang normal," terang dia.
Harris menambahkan beberapa faktor yang menjadi fenomena LGBT adalah pencucian otak yang dilakukan melalui berbagai tayangan film Hollywood, televisi dan internet.
"Diperburuk dengan pendidikan keluarga yang minim. Maka lengkap sudah," cetus dia.
Meski demikian, dia mengatakan pihaknya tidak mempunyai langkah untuk membendung fenomena LGBT tersebut.
"Kami hanya mengenalkan fungsi bagian tubuh secara umum kepada anak, serta bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain kecuali orang tua dan pengasuh yang diberi kepercayaan oleh orang tuanya," kata Harris.
Sebelumnya, akun jejaring sosial Twitter @gaykids_botplgmenghebohkan jagad dunia maya, karena menampilkan foto anak-anak yang terindikasi mengalami kelainan seksual.
Sengaja untuk merusak generasi Islam
Juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Iffah Ainur Rochmah mengajak masyarakat untuk mewaspadai upaya "ekspor" sistematis paham lesbian, gay, biseksual dan transgender (LBGT) ke negeri-negeri muslim yang didanai lembaga-lembaga liberal dunia.
"Ada dukungan dana dan opini dari lembaga-lembaga dunia dan media media Barat yang liberal untuk menyebarkan kerusakan di negeri-negeri muslim," kata Iffah dalam siaran persnya, Senin.
Iffah menilai upaya kampanye LGBT semakin menunjukkan keberanian setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat mengesahkan perkawinan sejenis tahun sebelumnya.
Menurut Iffah, AS secara serius mendanai program baru bernama "Being LGBT in Asia" yang diluncurkan UNDP dengan pendanaan 8 juta dolar AS dari USAID yang dimulai Desember 2014 hingga September 2017.
"Program ini fokus beroperasi di Asia Timur dan Asia Tenggara khususnya di Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand, dengan tujuan meminimalkan kendala bagi kaum LGBT untuk hidup di tengah masyarakat," tuturnya.
Iffah mengatakan, foto perkawinan sejenis di Bali yang beredar dan berbagai sosialisasi terbuka LGBT yang dikemas dalam forum-forum diskusi intelektual dan sejenisnya mengisyaratkan ruang gerak mereka semakin besar dengan dukungan kondisi sosial politik Indonesia.
"Masyarakat yang semakin permisif terhadap penyimpanga perilaku dan mengadopsi paham kebebasan adalah penyebab perilaku LGBT semakin tumbuh dan ancaman kerusakan yang ditimbulkan semakin besar," katanya.
Meskipun Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melarang keberadaan LGBT, tetapi Iffah mengatakan UNDP melaporkan terdapat 119 organisasi pendukung LGBT yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sumber:beritagar-HTI-Republika
Post by : lemahirengmedia.com
Semua artikel bersifat dinamis karena sewaktu-waktu akan mengalami perubahan data/sumber/analisa dan lainnya demi keakuratan dan obyektifitas informasi.

TINGGALKAN KOMENTAR ANDA